“Di Cihapit, selama setahun hanya ada tiga kelahiran. Tapi di Regol, dalam satu RT ada 46 kelahiran. Ini bukan sekadar soal produktivitas, tapi apakah semuanya sudah direncanakan dengan baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, program GenRe harus menjadi gerakan literasi Keluarga.
“Setiap keputusan dalam keluarga harus lahir dari pengetahuan dan kesadaran, bukan karena tekanan atau kebiasaan,” katanya.
Sebagai Bunda Forum Anak Daerah, Aryatri akan mengawal Hak-hak Anak, terutama yang rentan terhadap putus Sekolah.
“Masih banyak Anak yang dianggap bodoh padahal mengalami kesulitan belajar yang tidak terdeteksi. Mereka bukan bodoh, mereka hanya berbeda. Kita harus memastikan tidak ada Anak Bandung yang tertinggal,” ujar Farhan.
Dalam perannya sebagai Ketua Sekolah Perempuan, Aryatri diharapkan mampu memperkuat posisi Perempuan dalam pengambilan keputusan dan pembangunan sosial, sedangkan sebagai Ketua Forikan, ia akan mendorong peningkatan konsumsi ikan untuk memperbaiki gizi Masyarakat.
“Konsumsi ikan bukan sekadar urusan dapur, tapi urusan masa depan. Gizi yang baik melahirkan generasi yang kuat,” ungkapnya.
Farhan menutup sambutannya dengan menegaskan, seluruh peran Bunda Kota Bandung sejalan dengan visi “Bandung Utama, Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agamis.
“Cita-cita ini tidak mudah, tapi dengan kolaborasi dan cinta dari Masyarakat, terutama peran Bunda, kita pasti bisa,” ujarnya.
“Kami tidak berharap banyak dari para Bunda. Kami hanya berharap satu hal: cinta. Karena dengan cinta, semua program akan berjalan dengan hati,” tutup Farhan.
( Muhammad Andika Putra )
Halaman : 1 2

Ikuti Kami
Subscribe










