Pemakaian baret ungu Korps Marinir tidak hanya sebagai simbol identitas diri, namun mengamanahkan tuntutan untuk selalu menjaga kehormatan dan kebanggaan Korps dalam tugas dan pengabdian sebagai garda terdepan bangsa dalam menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Dengan demikian, konsekuensi menjadi seorang prajurit Korps Marinir menuntut tanggung jawab untuk berperilaku dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur tuntunan prajurit Korps Marinir sebagai landasan moral dalam setiap penugasan. Oleh karena itu, jaga dan pelihara kemampuan dan keterampilan sebagai “Prajurit-prajurit Petarung yang profesional, religius, humanis dan handal disegala medan operasi, memiliki karakter, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebenaran dan kejujuran, serta rela untuk berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, tambahnya.
Bersamaan itu pula para tamu undangan berkesempatan menyematkan baret ungu.
Diakhir acara Dankormar memerintahkan balik kanan untuk melihat ombak dilaut kepada Bintara Remaja, “100 meter didepan kalian adalah pantai pendaratan, disanalah awal kehidupan kalian sebagai pasukan pendarat”. Pungkas orang nomor satu di Korps Marinir.
Turut hadir pada acara tersebut Danpasmar 2, Ir Kormar, Koorsahli Dankormar, Kadisminpers Kormar, Kakuwil Kormar, Dankolatmar, Para Asisten Danpasmar 2, Para Dankolak Pasmar2, Para Dansatlak Kolak Pasmar 2, serta segenap keluarga Bintara Remaja. (Aedi/Rustam/Endo/Nandar)
Halaman : 1 2












