Meskipun begitu, kata Ridho, karena proses negosiasi ini akan memakan waktu yang panjang dan memerlukan mediator yang dipercaya kedua belah pihak, maka kesempatan Indonesia menjadi tuan rumah dan mediator masih terbuka lebar.
“Itu sebabnya Partai Ummat memandang perlu Indonesia proaktif menawarkan diri menjadi penengah. Indonesia sangat ideal dan, sekali lagi, akan dipercayai oleh kedua belah pihak,” Ridho menjelaskan.
Ridho mengatakan Partai Ummat menyadari bahwa politik luar negeri pada hakikatnya adalah sisi luar dari politik dalam negeri. Kalau politik dalam negeri morat-marit dan tidak stabil, maka politik luar negerinya juga tidak punya bobot, tambah Ridho.
“Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia secara populasi. Kita cukup pantas untuk mengusulkan meskipun kita menyadari kondisi dalam negeri sendiri sedang banyak masalah seperti komoditi minyak goreng yang hilang di pasar, masalah Wadas, ekonomi yang tak kunjung membaik, pelanggaran HAM, dan banyak lagi,” kata Ridho.
Tidak cuma itu, kata Ridho, Islam juga mengajarkan pemeluknya agar mencintai perdamaian dan menghindari peperangan yang merugikan masyarakat. “Jadi sebagai negara Muslim kita harus memegang teguh ajaran ini,” pungkasnya. (Nur Tanjung)
Halaman : 1 2












