Selain itu, lanjut Vijay, saat dirinya dilokasi pekerjaan tersebut para pekerja juga abaikan Safety K3.
“Saat pengerjaannya tidak adanya lampu penerangan, hal itu rentan terjadinya kecelakaan saat bekerja. Tak hanya itu, dalam pekerjaannya pun kenapa pakai manual, bukannya pakai dengan truk mixer atau truk molen yang merupakan kendaraan pengangkut beton cair dengan bagian belakang yang terus berputar. Gunanya untuk menjaga agar konsistensi beton tetap terjaga, tidak mengeras selama dalam perjalanan,” sambungnya.
“Saya merasa heran dengan sistem pemerintahan yang ada di DBMSDA Kabupaten Tangerang, proyek betonisasi seperti ini kenapa harus di amanat kan kepada oknum kontraktor yang dengan sengaja sangat merugikan masyarakat. Kualitas betonisasi seperti ini sangat riskan hancur kembali, hal seperti ini harus segera ditangani oleh instansi DBMSDA Kabupaten Tangerang,” tandasnya.
Perlu diingatkan kembali, tegas Vijay, dirinya meminta kepada pihak DBMSDA Kabupaten Tangerang harus bekerja lebih ekstra dalam pembangunan infrastruktur yang ada di Kabupaten Tangerang.
“Tolong jangan cuma duduk manis di kantor saja, kalian (red- DBMSDA ) itu digaji dari uang rakyat, tolong awasi dan laksanakan pembangunan dengan benar, supaya masyarakat betul-betul merasakan manfaatnya serta Negara tidak dirugikan,” tegasnya.
Saat liputan86.com mencoba mengkonfirmasi pihak DBMSDA Kabupaten Tangerang melalui WhatsApp masih belum ada jawaban.
Sampai berita ini ditayangkan pihak DBMSDA Kabupaten Tangerang masih belum bisa dihubungi. (Lena)
Halaman : 1 2












