“Memang saya tidak dapat, tapi saya kasihan dengarnya kalau dipotong sampai Rp350 ribu, sedangkan KPM cuma nerima Rp250 ribu, kalau begitu mah kebiri duitnya kita terlalu banyak,” cetus N.
Sementara itu, Mamay warung saat akan dikonfirmasi terlihat sangat gelisah dengan wajah rasa ketakutan, dan berbagai alesanpun dilakukan untuk menghindari pertanyaan yang digelontori wartawan, untuk menutupi perbuatannya.
“Tidak tahu pak, saya mah tidak tahu apa-apa masalah prakerja, sudah dulu yah, saya mau parut kelapa, yang pesannya sudah nungguin, saya tidak sekolah jadi tidak ngerti apa-apa,” cetusnya.
Di tempat yang sama, saat kembali dikonfirmasi awak media, Mamay terus mengelak dan menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, bahkan dirinya tidak mengakui mempunyai anak yang menjadi guru sekolah.
“Kalau mau cari informasi ke media sosial saja, jangan tanya ke saya, yang namanya bantuan prakerja saya tidak ngerti, yang cairkan bukan anak saya, anak saya cuma satu yang suaminya kerja di Bandara, saya tidak punya anak guru,” lugasnya.
Di tempat yang berbeda, Kades Pondok Kelor, Junaedi saat ditemui awak media, mengaku tidak mengetahui adanya warga yang mencairkan dan memotong dana prakerja milik KPM sebesar Rp350 ribu.
“Waduh, saya baru dengar dari abang, kalau ada oknum cairkan serta potong bantuan prakerja di desa saya, ini harus ditegur tanpa pengetahuan aparatur saya, takutnya nanti nama saya terbawa jelek lagi,” tandasnya. (Gor/Red)
Halaman : 1 2












