Alternatif pertama, pihaknya akan membangun jembatan dengan panjang sekitar 250 meter di titik longsor. Namun hal tersebut membutuhkan biaya besar dan waktu yang cukup panjang.
Alternatif kedua, pihaknya akan melakukan trase jalan kabupaten. “Namun akan menambah panjang jarak tempuh dan juga ada gesekan sosial seperti saat pembebasan lahan. Ini yang masih kita pikirkan,” ungkap Junto.
Alternatif ketiga, pihaknya akan menjadikan jalan alternatif yang digunakan sekarang sebagai jalur utama. “Ini tentunya perlu desain yang maskimal. 3 alternatif tersebut akan kita usulkan ke Kementerian PUPR RI,” ujarnya.
Junto memaparkan, pihaknya akan berupaya secepat mungkin untuk menangani titik longsor tersebut. “Namun jika dananya belum keluar, kita akan tetap manfaatkan jalur darurat dan jalur alternatifnya. Itu akan kita maksimalkan dengan menyiapkan alat berat untuk stand by di kedua lokasi tersebut,” ujar Junto.
Seperti disaksikan tim media ini, Jalan Trans-Timor di km 83 Takari tampak tertimbun jutaan kubik material longsor susulan hingga saat ini. Terlihat debu menebal di jalan tersebut karena cuaca yang panas.
Namun kondisi itu akan berubah jika turun hujan. Siraman air hujan akan mengakibatkan jalan tersebut berlumpur dan sulit dilalui kendaraan.
Di beberapa titik tampak tanah yang basah oleh rembesan air. Bahkan muncul mata air di lokasi longsor. Tampak lima orang anak berusia 5-7 tahun sedang menimba air sedikit demi-sedikit di lokasi genangan untuk digunakan.
Seperti diberitakan sebelumnya terjadi longsor di Kilometer 73, di Kelurahan Takari, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang yang menutup ratusan meter badan jalan Trans-Timor. Akibatnya pasokan sembako, bahan bangunan, BBM, dan lainya ke Kabupaten TTS, TTU, Belu, dan Malaka serta Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) terhambat.
Upaya pembersihan dilakukan oleh BPJN NTT dengan menggerakkan puluhan alat berat dan kendaraan pengangkut (truk, red) untuk mengangkut/memindahkan jutaan kubik material longsor. (Rian)
Halaman : 1 2












