Yang Bertempat Di desa oebafok,kecamatan Rote barat Daya,Kabupaten Rote Ndao.
Bersama Babinsa Sertu Armindo Da Silva.
Mewujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat tidak bisa dilakukan secara “instan”Namun harus “konstan” dipersiapkan secara dini agar senantiasa terpelihara semangat bela negara, kesiapan Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam dan Buatan maupun komponen lainnya yang tercakup dalam bagian Sishanta. Salah satu cara untuk mewujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat adalah dengan kegiatan Pembinaan Teritorial.
Pembinaan Teritorial (Binter) atau “Ngeter”/ ”adu bako” (istilah tren dari bahasa non formal kalangan prajurit TNI AD) senantiasa digaungkan dalam berbagai kesempatan dan kegiatan prajurit TNI AD tatkala berinteraksi secara langsung dengan masyarakat.
Berbagai tulisan mengenai kegiatan Binter baik berupa aturan-aturan, buku-buku petunjuk internal TNI AD maupun referensi lainnya menerangkan secara panjang lebar dengan bahasa yang terkadang sulit dipahami oleh prajurit maupun masyarakat awam lainnya.
Intinya Binter itu “Baik-Baik Dengan Rakyat” sesuai slogan yang pernah populer beberapa waktu lalu, akan tetapi apakah sesederhana itu para prajurit TNI AD dan masyarakat dapat memahaminya…?
Timbul pertanyaan kritis yang mempertanyakan “Mengapa Pembinaan Teritorial (Binter) itu termasuk fungsi utama TNI AD ?”. Secara mudahnya dapat disampaikan bahwa Binter termasuk fungsi utama TNI AD karena memang tercantum di dalam naskah Doktrin Kartika Eka Paksi atau “emang dari sononye” (istilah dialek percakapan suku betawi). Sudah barang tentu tidaklah demikian pemahamannya namun untuk memahami Binter sehingga dapat termasuk salah satu dari tiga fungsi utama TNI AD disamping fungsi pertempuran maupun pembinaan postur, memerlukan paradigma/kerangka berpikir yang komprehensif. Pemahaman paradigma tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek,”Babinsa. (Lena)
Halaman : 1 2













